Begitu
banyak insan berprestasi tinggi dari Nusantara ini. Namun mulai banyak dari
mereka yang telah berprestasi tinggi malah memilih meninggalkan Nusantara.
Menjadi warga negara lain dan hidup di negara lain, disaat negara membutuhkan
sokongan pembangunan dari mereka.
Tidak
sedikit warga Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di
luar negeri. Namun hanya beberapa persen yang kembali untuk mengabdi kepada
negara, mereka yang tidak kembali memilih bekerja atau mengabdi di negara lain.
Menjadi contoh seperti, Nelson Tansu,
seorang pakar nanoteknologi
dan optoelektronika
asal Indonesia
yang kini menjadi tenure-track Assistant Professor di Universitas
Lehigh, Amerika Serikat. Ada Merry Riana seorang pengusaha
dan motivator muda Indonesia, tetapi ia meletakkan usaha-usahanya di Singapura.
Masih teringat Sri Mulyani Indrawati yang kini menjadi Direktur Pelaksana Bank
Dunia di Amerika Serikat, setelah sebelumnya menjabat Menteri Keuangan
Indonesia.
Kembali
kepada pertanyaan apa yang menjadi alasan mereka untuk lebih memilih berada di
luar negeri ketimbang untuk kembali. Apakah kalimat Balik Ndeso Mbangun Ndeso tidak lagi dihiraukan ? Atau rasa kecewa kepada
pemerintah yang bersikap apatis kepada mereka ? Olehnya ada dorongan berbagai
faktor menjadi alasan, salah satunya rendahnya bentuk apresiasi prestasi orang
Indonesia.
Dewasa
ini meski sudah banyak insan yang berprestasi, akademik dan non-akademik,
tetapi bentuk penghargaan kepada mereka masih cukup rendah. Pendidikan di
Indonesia masih jarang mendapat rasa apresiasi dari masyarakat. Bagi mereka
yang meraih prestasi di luar negeri hanya dianggap sebagai kamuflase atas pendidikan
di Indonesia. Prestasi dirasa tidak mewakili keadaan pendidikan dan kualitas
sumber daya manusia di Indonesia. Oleh Sukro Muhab, pakar pendidikan
Universitas Negeri Jakarta, mengkritisi kemenangan olimpiade sains yang
diperoleh Indonesia selama ini hanya untuk gengsi negara di kancah
internasional.
Prestasi anak Indonesia dalam olimpiade sains juga sangat bertolak belakang
dengan hasil survei yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) pada
2005. Di Asia Tenggara, indeks pembangunan manusia Indonesia menempati posisi
ke-7.
Selain
itu para ahli atau pakar pendidikan dalam disiplin ilmu tertentu juga ikut
kurang mendapat apresiasi. Selama ini dalam materi pelajaran yang diterima oleh
mayoritas siswa di Indonesia mengutip pendapat dari tokoh pendidikan luar
negeri, seperti Eropa
Bagi
bidang politik, pemerintah sekarang mungkin ada perkembangan dari beberapa
sisi. Antara lain banyak politisi atau partai politik yang mulai memberi
penghargaan bagi mereka yang mempunyai jasa atau prestasi yang membanggakan.
Namun, disayangkan penghargaan-penghargaan tersebut sudah didekengi dengan kepentingan politik. Politisi mulai menggunakan
kepentingan sosial sebagai bentuk pencitraan mereka di depan masyarakat. Kemudian melihat dari sisi kekecewaan
orang-orang berprestasi kepada pemerintah, yakni tertuju kepada sistem dan
kondisi perpolitikan Indonesia.
Perpolitikan
Indonesia mempunyai sistem birokrasi yang sulit dan belum tertata rapi untuk
memberi penghargaan bagi peraih prestasi. Dapat terlihat dari rendahnya
apresiasi kepada para atlet ataupun penemu teknologi Indonesia. Mereka pun
berpindah dari Indonesia sehingga ciptaan atau karyanya menjadi milik negara
lain. Sebagai contoh adalah Khoirul
Anwar pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing
atau OFDM sekarang bekerja untuk Jepang dan Tony Gunawan, mantan atlet pebulutangkis
Indonesia, yang kini memperkuat bulu tangkis Amerika Serikat. Kondisi politik
Indonesia yang tidak bersih pun turut andil dalam hal ini. Maraknya praktek
korupsi di kalangan petinggi pemerintah, sehingga semula anggaran yang
dialokasikan untuk orang-orang berprestasi mengalami pemotongan dan
pengurangan.
Ketika
sebagian orang-orang berprestasi harus menghadapi rendahnya apresiasi
masyarakat dan pemerintah, ekonomi menjadi faktor penentu untuk berpindah atau
menetap di Indonesia. Mayoritas orang-orang berprestasi berpindah dari
Indonesia karena mencari penghidupan yang lebih layak. Di Indonesia angka
harapan hidup menempati peringkat 108
dunia dengan angka 71 tahun, berbeda dengan Jepang yang menempati peringkat
empat dunia dengan angka 82,25 tahun.
Selain itu di beberapa negara maju memiliki jaminan kesejahteraan hidup,
seperti jaminan pekerjaan, pendapatan, dan fasilitas pendukung lainnya. Inilah
yang menjadi faktor penarik sekaligus pendorong sebagian orang-orang
berprestasi memilih berpindah hidup di negara lain.
Mawas Diri dan Sinergisitas
Diperlukan
Perlunya
penataan ulang dalam diri setiap masing-masing pihak menjadi urgensi dalam
fenomena ini. Perlunya maintenance
rasa penghargaan rakyat Indonesia, penanaman materi-materi rasa menghargai akan
prestasi dan jasa. Masyarakat seyogyanya memberi penghargaan bagi mereka yang
berprestasi agar mereka dapat beraktualisasi diri di Indonesia. Untuk mendukung
ini kita perlu menghilangkan stereotype
bahwa orang Indonesia tidak bisa menghargai, karena dapat membentuk mindset
yang buruk dalam pribadi masing-masing.
Tidak
bisa kita melulu menyalahkan pemerintah akan fenomena ini, kita orang awam pun
harus mengerti kesalahan dalam menghargai prestasi. Tidak perlu juga
orang-orang berprestasi menuntut untuk mendapat fasilitas atau penghargaan yang
tinggi kepada pemerintah. Mereka yang mengapresiasi dan juga yang diapresiasi
seharusnya mampu menempatkan diri atau mawas diri. Sekaligus tidak adanya
pandangan tinggi dan rendah terhadap suatu keberhasilan, alias perlunya
pemerataan. Karena apresiasi itu penting, keberhasilan yang positif perlu
mendapat apresiasi yang baik pula.
Keberhasilan
penghargaan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak, tetapi semua lini harus
mampu bergerak bersama-sama. Perlu ditekankan adalah jangan banyak menuntut
karena seharusnya semua lini saling membantu untuk berprestasi dan menghargai.
Mengutip pernyataan John F. Kennedy, mantan Presiden Amerika Serikat, “Ask not, what your country can do
for you. Ask what, you can do for your country” jangan tanyakan apa yang negara
bisa lakukan kepadamu, tanyakan apa yang kamu bisa lakukan pada negaramu.
Ketika semua lini bergerak bersama, bersinergi untuk mengentaskan masalah ini,
Indonesia mampu untuk melaksanakan pembangunan dengan baik dan bersaing dalam
kancah internasional. Jaya bangsaku, jaya Indonesiaku!
REFERENSI
Daftar Negara Menurut
Angka Harapan Hidup, diakses Sabtu 20
Oktober 2012, pukul 21.00 WIB, Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_angka_harapan_hidup
Prestasi Olimpiade
Sains Hanya Kamuflase, diakses pada Jumat, 19 Oktober 2012, pukul 20.45 WIB, Tempo.co: http://www.tempo.co/read/news/2007/04/29/05599037/null
emang kutipan ini harus diinget "apa yang bisa kita lakukan pada negara ini". jayalah Indonesia! semangat!
BalasHapus