Minggu, 17 Februari 2013

Menata Ulang Apresiasi Prestasi


Begitu banyak insan berprestasi tinggi dari Nusantara ini. Namun mulai banyak dari mereka yang telah berprestasi tinggi malah memilih meninggalkan Nusantara. Menjadi warga negara lain dan hidup di negara lain, disaat negara membutuhkan sokongan pembangunan dari mereka.
Tidak sedikit warga Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Namun hanya beberapa persen yang kembali untuk mengabdi kepada negara, mereka yang tidak kembali memilih bekerja atau mengabdi di negara lain. Menjadi contoh seperti, Nelson Tansu, seorang pakar nanoteknologi dan optoelektronika asal Indonesia yang kini menjadi tenure-track Assistant Professor di Universitas Lehigh, Amerika Serikat. Ada Merry Riana seorang pengusaha dan motivator muda Indonesia, tetapi ia meletakkan usaha-usahanya di Singapura. Masih teringat Sri Mulyani Indrawati yang kini menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia di Amerika Serikat, setelah sebelumnya menjabat Menteri Keuangan Indonesia.  
Kembali kepada pertanyaan apa yang menjadi alasan mereka untuk lebih memilih berada di luar negeri ketimbang untuk kembali. Apakah kalimat Balik Ndeso Mbangun Ndeso tidak lagi dihiraukan ? Atau rasa kecewa kepada pemerintah yang bersikap apatis kepada mereka ? Olehnya ada dorongan berbagai faktor menjadi alasan, salah satunya rendahnya bentuk apresiasi prestasi orang Indonesia.


Sulitnya Mendapat Penghargaan
Dewasa ini meski sudah banyak insan yang berprestasi, akademik dan non-akademik, tetapi bentuk penghargaan kepada mereka masih cukup rendah. Pendidikan di Indonesia masih jarang mendapat rasa apresiasi dari masyarakat. Bagi mereka yang meraih prestasi di luar negeri hanya dianggap sebagai kamuflase atas pendidikan di Indonesia. Prestasi dirasa tidak mewakili keadaan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Oleh Sukro Muhab, pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengkritisi kemenangan olimpiade sains yang diperoleh Indonesia selama ini hanya untuk gengsi negara di kancah internasional. Prestasi anak Indonesia dalam olimpiade sains juga sangat bertolak belakang dengan hasil survei yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) pada 2005. Di Asia Tenggara, indeks pembangunan manusia Indonesia menempati posisi ke-7.
Selain itu para ahli atau pakar pendidikan dalam disiplin ilmu tertentu juga ikut kurang mendapat apresiasi. Selama ini dalam materi pelajaran yang diterima oleh mayoritas siswa di Indonesia mengutip pendapat dari tokoh pendidikan luar negeri, seperti Eropa
Bagi bidang politik, pemerintah sekarang mungkin ada perkembangan dari beberapa sisi. Antara lain banyak politisi atau partai politik yang mulai memberi penghargaan bagi mereka yang mempunyai jasa atau prestasi yang membanggakan. Namun, disayangkan penghargaan-penghargaan tersebut sudah didekengi dengan kepentingan politik. Politisi mulai menggunakan kepentingan sosial sebagai bentuk pencitraan mereka di depan masyarakat.  Kemudian melihat dari sisi kekecewaan orang-orang berprestasi kepada pemerintah, yakni tertuju kepada sistem dan kondisi perpolitikan Indonesia.
Perpolitikan Indonesia mempunyai sistem birokrasi yang sulit dan belum tertata rapi untuk memberi penghargaan bagi peraih prestasi. Dapat terlihat dari rendahnya apresiasi kepada para atlet ataupun penemu teknologi Indonesia. Mereka pun berpindah dari Indonesia sehingga ciptaan atau karyanya menjadi milik negara lain. Sebagai contoh adalah Khoirul Anwar pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing atau OFDM sekarang bekerja untuk Jepang dan Tony Gunawan, mantan atlet pebulutangkis Indonesia, yang kini memperkuat bulu tangkis Amerika Serikat. Kondisi politik Indonesia yang tidak bersih pun turut andil dalam hal ini. Maraknya praktek korupsi di kalangan petinggi pemerintah, sehingga semula anggaran yang dialokasikan untuk orang-orang berprestasi mengalami pemotongan dan pengurangan.
Ketika sebagian orang-orang berprestasi harus menghadapi rendahnya apresiasi masyarakat dan pemerintah, ekonomi menjadi faktor penentu untuk berpindah atau menetap di Indonesia. Mayoritas orang-orang berprestasi berpindah dari Indonesia karena mencari penghidupan yang lebih layak. Di Indonesia angka harapan hidup  menempati peringkat 108 dunia dengan angka 71 tahun, berbeda dengan Jepang yang menempati peringkat empat dunia dengan angka 82,25 tahun. Selain itu di beberapa negara maju memiliki jaminan kesejahteraan hidup, seperti jaminan pekerjaan, pendapatan, dan fasilitas pendukung lainnya. Inilah yang menjadi faktor penarik sekaligus pendorong sebagian orang-orang berprestasi memilih berpindah hidup di negara lain.
Mawas Diri dan Sinergisitas Diperlukan
Perlunya penataan ulang dalam diri setiap masing-masing pihak menjadi urgensi dalam fenomena ini. Perlunya maintenance rasa penghargaan rakyat Indonesia, penanaman materi-materi rasa menghargai akan prestasi dan jasa. Masyarakat seyogyanya memberi penghargaan bagi mereka yang berprestasi agar mereka dapat beraktualisasi diri di Indonesia. Untuk mendukung ini kita perlu menghilangkan stereotype bahwa orang Indonesia tidak bisa menghargai, karena dapat membentuk mindset yang buruk dalam pribadi masing-masing. 
Tidak bisa kita melulu menyalahkan pemerintah akan fenomena ini, kita orang awam pun harus mengerti kesalahan dalam menghargai prestasi. Tidak perlu juga orang-orang berprestasi menuntut untuk mendapat fasilitas atau penghargaan yang tinggi kepada pemerintah. Mereka yang mengapresiasi dan juga yang diapresiasi seharusnya mampu menempatkan diri atau mawas diri. Sekaligus tidak adanya pandangan tinggi dan rendah terhadap suatu keberhasilan, alias perlunya pemerataan. Karena apresiasi itu penting, keberhasilan yang positif perlu mendapat apresiasi yang baik pula.
Keberhasilan penghargaan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak, tetapi semua lini harus mampu bergerak bersama-sama. Perlu ditekankan adalah jangan banyak menuntut karena seharusnya semua lini saling membantu untuk berprestasi dan menghargai. Mengutip pernyataan John F. Kennedy, mantan Presiden Amerika Serikat, “Ask not, what your country can do for you. Ask what, you can do for your country” jangan tanyakan apa yang negara bisa lakukan kepadamu, tanyakan apa yang kamu bisa lakukan pada negaramu. Ketika semua lini bergerak bersama, bersinergi untuk mengentaskan masalah ini, Indonesia mampu untuk melaksanakan pembangunan dengan baik dan bersaing dalam kancah internasional. Jaya bangsaku, jaya Indonesiaku!

REFERENSI
Daftar Negara Menurut Angka Harapan Hidup, diakses Sabtu 20 Oktober 2012, pukul 21.00 WIB, Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_angka_harapan_hidup
Prestasi Olimpiade Sains Hanya Kamuflase, diakses pada Jumat, 19 Oktober 2012, pukul 20.45 WIB, Tempo.co: http://www.tempo.co/read/news/2007/04/29/05599037/null

1 komentar:

  1. emang kutipan ini harus diinget "apa yang bisa kita lakukan pada negara ini". jayalah Indonesia! semangat!

    BalasHapus